Tampilkan postingan dengan label ISLAMIC. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ISLAMIC. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 April 2014

KISAH NABI MUSA dan NABI KHIDIR

KISAH NABI MUSA dan NABI KHIDIR



           Hari ini disuguhi dengan sebuah khutbah yang sangat bermanfaat dari khotib hari ini. Kisah antara nabi Musa dan nabi Khidir. Kisah ini dikisahkan dalam surah Al-Kahfi yang disunnahkan pada kita untuk membacanya setiap malam jum'at dan hari jum'at. Dan cerita ini mencangkup hanya sedikit bagian dari di dalam surah tersebut. Sebenarnya tadi mau ngetik langsung, soalnya kitab Tafsir Ibnu katsirnya kagak bisa di copas~. Tapi berhubung, di kisahmuslim.com ada tertulis, jadi saya copas saja, setelah saya cocokkan isinya memang sama. Semoga bermanfaat dan selamat membaca.


Dari Ubay bin Ka’ab, Rasulullah bersabda, “Pada suatu ketika Musa berbicara di hadapan Bani Israil, kemudian ada seseorang yang bertanya, ‘Siapakah orang yang paling pandai itu?’ Musa menjawab, ‘Aku.’

Dengan ucapan itu, Allah mencelanya, sebab Musa tidak mengembalikan pengetahuan suatu ilmu kepada Allah. Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, ‘Sesungguhnya Aku memiliki seorang hamba yang berada di pertemuan antara laut Persia dan Romawi, hamba-Ku itu lebih pandai daripada kamu!’

Musa bertanya, ‘Ya Rabbi, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya?’ Maka dijawab, “Bawalah seekor ikan yang kamu masukkan ke dalam suatu tempat, di mana ikan itu menghilang maka di situlah hamba-Ku itu berada!’

Kemudian Musa pun pergi. Musa pergi bersama seorang pelayan bernama Yusya’ bin Nun. Keduanya membawa ikan tersebut di dalam suatu tempat hingga keduanya tiba di sebuah batu besar. Mereka membaringkan tubuhnya sejenak lalu tertidur. Tiba-tiba ikan tersebut menghilang dari tempat tersebut. Ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut. Musa dan pelayannya merasa aneh sekali.

Lalu keduanya terus menyusuri dari siang hingga malam hari. Pada pagi harinya, Musa berkata kepada pelayannya,

آتِنَا غَدَاءنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَذَا نَصَباً

‘Bawalah ke mari makanan kita. Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini.’ (QS. Al-Kahfi: 62)

Musa berkata,

ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصاً

‘‘Itulah tempat yang kita cari,’ lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.’ (QS. Al-Kahfi: 64)

Setibanya mereka di batu tersebut, mereka mendapati seorang lelaki yang tertutup kain, lalu Musa memberi salam kepadanya

Khidir (orang itu) bertanya, ‘Berasal dari manakah salam yang engkau ucapkan tadi?’ Musa menjawab, ‘Aku adalah Musa.’ Khidir bertanya, ‘Musa yang dari Bani Israil?’ Musa menjawab, ‘Benar!’

هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْد. قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْراً

‘‘Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.’‘ (QS. Al-Kahfi: 66–67)

Khidir berkata, ‘Wahai Musa, aku ini mengetahui suatu ilmu dari Allah yang hanya Dia ajarkan kepadaku saja. Kamu tidak mengetahuinya. Sedangkan engkau juga mempunyai ilmu yang hanya diajarkan Allah kepadamu saja, yang aku tidak mengetahuinya.’

Musa berkata,

سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ صَابِراً وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْراً

‘Insya Allah, kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.’ (QS. Al-Kahfi: 69)

Kemudian, keduanya berjalan di tepi laut. Tiba-tiba lewat sebuah perahu. Mereka berbincang-bincang dengan para penumpang kapal tersebut agar berkenan membawa serta mereka. Akhirnya, mereka mengenali Khidhir, lalu penumpang kapal itu membawa keduanya tanpa diminta upah.

Tiba-tiba, seekor burung hinggap di tepi perahu itu, ia mematuk (meminum) seteguk atau dua kali teguk air laut. Kemudian, Khidhir memberitahu Musa, ‘Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu tidak sebanding dengan ilmu Allah, kecuali seperti paruh burung yang meminum air laut tadi!’

Khidhir lalu menuju salah satu papan perahu, kemudian Khidhir melubanginya. Melihat kejanggalan ini Musa bertanya, ‘Penumpang kapal ini telah bersedia membawa serta kita tanpa memungut upah, tetapi mengapa engkau sengaja melubangi kapal mereka? Apakah engkau lakukan itu dengan maksud menenggelamkan penumpangnya?’

Khidhir menjawab,

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْراً. قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْراً

‘Bukankah aku telah berkata, ‘Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku.’ Musa berkata, ‘Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku.’’ (QS. Al-Kahfi: 72–73)

Itulah sesuatu yang pertama kali dilupakan Musa, kemudian keduanya melanjutkan perjalanan. Keduanya bertemu dengan seorang anak laki-laki sedang bermain bersama kawan-kawannya. Tiba-tiba Khidhir menarik rambut anak itu dan membunuhnya.

Melihat kejadian aneh ini, Musa bertanya,

أَقَتَلْتَ نَفْساً زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئاً نُّكْراً

‘Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar.’ (QS. Al-Kahfi: 74)

Khidhir menjawab,

أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِي صَبْراً

‘Bukankah sudah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?’ (QS. Al-Kahfi: 75)

Maka, keduanya berjalan. Hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh.

فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْر. قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْراً

‘Khidhir berkata bahwa, melalui tangannya, dia menegakkan dinding itu. Musa berkata, ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’ Khidhir berkata, ‘Inilah perpisahan antara aku dengan kamu.’‘ (QS. Al-Kahfi: 77–78).

Semoga Allah menganugerahkan rahmat kepada Musa ‘alaihis salam. Tentu, kita sangat menginginkan sekiranya Musa dapat bersabar sehingga kita memperoleh cerita tentang urusan keduanya.” (HR. Al-Bukhari no. 122 dan Muslim no. 2380)

Pelajaran yang dapat dipetik:
1. Orang yang pandai dan terhormat boleh meminta orang lain untuk membantu memenuhi kebutuhannya.
2. Anjuran untuk tawadhu’ dan tidak sombong karena kepandaiannya, dan jika ditanyakan kepadanya, “Siapa orang yang paling pandai?” Hendaknya menjawab, “Allahu a’lam (Allah yang lebih mengetahui).”
3. Kewajiban melaksanakan ajaran yang telah disyariatkan sekalipun akal tidak mampu mencernanya.
4. Anjuran safar dalam thalabul ilmi (menuntut ilmu agama, ed).
5. Anjuran untuk bersopan santun dengan para ulama dan orang yang lebih tua.
6. Ketetapan adalah karamah para wali.
7. Diperbolehkan meminta makanan jika memang membutuhkan.
8. Diperbolehkan menempuh perjalanan dengan berlayar, dan diperbolehkan meminjam kendaraan, menempati rumah, atau memakai pakaian kawannya tanpa memberi imbalan, jika pemiliknya ridha.
9. Menghukumi sesuatu berdasarkan apa yang tampak.
10. Jika harus menghadapi dua bahaya, maka bahaya yang lebih besar harus dihindari dengan cara melakukan bahaya yang lebih ringan.
11. Disyariatkan memberi bimbingan dengan khutbah dan melakukan tanya-jawab.
12. Para nabi bisa lupa, kecapekan, lapar, dan tidur.
13. Lemah lembut kepada pengikut dan pembantu.
14. Manusia tidak sepi dari was-was setan.
15. Disunnahkan bahwa orang yang menyeru seseorang kepada kebaikan atau mengingatkannya, hendaknya ia memulai dengan dirinya sendiri, dan tidak terlarang pula jika sebaliknya. Keduanya disinyalir dalam sunnah.
16. Hadits ahad diterima dalam masalah-masalah akidah.

Sumber: Wahab, Muhammad. 2009. 61 Kisah Pengantar Tidur. Darul Haq, Cetakan VI, .

Meneladani Jiwa Pembelajar Nabi Ibrahi

Meneladani Jiwa Pembelajar Nabi Ibrahim



“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis.” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu.” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Mujadilah: 11).

                Bagi seorang muslim menuntut ilmu adalah suatu kewajiban. Islam mengajarkan kita untuk menjadi pembelajar yang berkelanjutan. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang mengatakan bahwa setiap muslim itu wajib menuntut ilmu sejak dilahirkan hingga ajal menjemputnya. Betapa pentingnya seorang muslim mengilmui suatu ilmu karena memang ilmu ibarat cahaya dalam kegelapan. Ibarat manual book Ilmu akan memberikan petunjuk bagi kita dalam menjalani hidup di dunia ini. Bahkan dalam konsep amal, ilmu menjadi unsur yang pokok, selain niat. Amalan kita akan diterima jika didasari dengan niat dan ilmu yang benar. Amal yang tidak didasari dengan niat yang benar hanya karena Allah maka akan ditolak. Begitupun jika amal tidak berlandaskan ilmu yang benar maka dikhawatirkan amalan itu tertolak karena tidak sesuai dengan tuntunan. Sehingga dalam konteks ini upaya mencari ilmu menjadi hal yang sangat penting dan urgensi mengingat setiap aktivitas kita sudah seharusnya berlandaskan ilmu yang benar agar tidak salah dalam melangkah.
Berbicara tentang menuntut ilmu ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Namun juga tidak sesulit yang kita takutkan. Ada hal yang menarik yang bisa kita teladani dari sosok Nabi Ibrahim AS untuk menjadi seorang pembelajar yang baik.

Keingintahuan Besar dan Sikap Kritis Seorang Ibrahim Muda
          Dilahirkan dari seorang bapak yang kafir kepada Allah menjadi hal yang cukup berat dirasakan oleh Ibrahim muda. Semenjak kecil sang Ayah yang juga sebagai pembuat berhala tentu tidak mengenalkan sang Anak dengan Allah sebagai Tuhannya.  Sang ayah mengajari bahwa Tuhan mereka adalah berhala. Ibrahim muda adalah seorang yang cerdas dan kritis menanggapi itu semua. Ibrahim tak puas dengan apa yang diajarkan ayahnya. Ketidakpuasan ditambah dengan sikap kritis itulah yang menyebabkan Ibrahim tergerak untuk mencari, mencari, dan mencari Tuhan yang memang benar itu siapa. Petualangan pencarian Tuhan pun berlangsung hingga Ibrahim mengira Tuhannya adalah bulan, matahari, dan seterusnya. Sampai akhirnya dia mendapatkan bahwa Tuhannya adalah Dzat yang menciptakan dia dan seluruh alam semesta ini. Dari sinilah kita bisa meneladani betapa besar keingintahuan dari seorang Ibrahim Muda dalam memecahkan suatu tanda tanya dalam hidupnya. Dan yang juga perlu kita contoh adalah semangat pencarian dari keingintahuan beliau. Keingintahuan yang besar tak hanya berhenti pada pemikiran saja, namun juga terimplementasikan dalam aksi nyata untuk mencari jawabannya. Semoga kita sebagai generasi pembelajar bisa belajar dari Ibrahim untuk kritis dalam menyikapi sesuatu dan rasa keingintahuan yang besar pada suatu hal yang termanifestasikan dalam aksi nyata.
  
Sabar
          Nabi Ibrahim adalah sosok nabi yang mempunyai kesabaran yang luar biasa. Masih ingat betul di saat Nabi Ibrahim harus menanti untuk mendapatkan momongan, beliau harus menunggu hingga usianya sekitar 90 tahun. Penantian yang tak hanya kosong dalam stagnasi usaha. Namun Nabi Ibrahim setiap waktu menyambut penantian itu dengan doa-doa yang terus terpanjatkan kepada-Nya, selain tentunya berusaha. Inilah arti sebuah kesabaran yang bisa kita teladani. Dalam menginginkan suatu hal kita perlu bersabar dalam mencapainya, termasuk dalam proses mencari ilmu. Dalam mencari ilmu kita perlu sabar dalam menempuh proses pembelajaran itu. Sabar dalam menghadapi segala godaan yang menghalangi dan menjadi onak duri di hadapan kita. Sabar dalam menjaga semangat pembelajar sehingga tetap istiqamah di jalan pencarian ilmu ini. Kemudian hal yang terpenting juga adalah kita harus mengisi kesabaran kita dengan doa dan usaha yang senantiasa saling beriringan.
       Kesabaran sangat penting bagi para pemburu ilmu. Al-Imam Ibnul Madini meriwayatkan bahwa Asy-Sya’bi pernah ditanya: “Dari mana kamu mendapat ilmu itu semua?” Beliau menjawab: “Dengan meniadakan penyadaran, menempuh perjalanan ke berbagai negeri, dan kesabaran seperti sabarnya benda mati, dan bergegas-gegas pagi-pagi seperti burung gagak”. (At-Tadzkiroh, Adz Dzahabi). Menuntut ilmu bukan hal yang instant, kita belajar kita langsung dapat ilmu yang kita inginkan. Bukan seperti itu, namun mencari ilmu adalah proses yang panjang. Apalagi kita tahu bahwa mencari Ilmu itu sebuah masa yang cukup panjang bagi kita, bayangkan saja kita sebagai seorang muslim diwajibkan menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Menuntut ilmu bukan hanya dalam konteks akademik apalagi hanya sebatas mengikuti anjuran pemerintah yakni memenuhi tuntutan Wajib Belajar 12 Tahun. Menuntut ilmu bagi seorang muslim adalah berkelanjutan dan tiada akhir. Sehingga tentu perlu kesabaran yang luar biasa sebagai kekuatan dalam menjaga semangat berkelanjutan dalam menuntut Ilmu. Dan dengan sabarlah ilmu kita akan bertahan dan dengan sabarlah ilmu akan didekatkan dengan pencarinya.

Ikhlas dan Taat Menjalani Perintah
       Ikhlas dalam melaksanakan ketaatan. Memiliki anak adalah kebanggaan para orangtua. Begitu sayangnya, para orangtua akan berupaya mati-matian menjaga keselamatan buah hatinya. Nabi Ibrahim AS setelah sekian lama menunggu dianugerahi seorang anak, di saat anak itu sudah dewasa Allah memerintahkan untuk menyembelihnya. Menyembelih anak sendiri sungguh sangatlah sulit dilakukan walaupun hal tersebut atas perintah Allah SWT. Hanya orang yang benar-benar ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT yang mampu melaksanakannya. Nabi Ibrahim as adalah contoh kongkretnya. Berbeda halnya dengan kita, kadang berkurban pun masih sempat-sempatnya ingin pamer ketaatan kepada manusia.
           Membuktikan ketaatan kepada Allah SWT, tak mungkin hanya setengah-setengah atau ala kadarnya. Haruslah totalitas dan kaffah menjalani perintah Allah itu. Banyak sekali firman Allah SWT yang menyinggung masalah pengorbanan dalam pembuktian ketaatan. Misalnya Allah SWT berfirman (yang artinya): Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah [9]: 24).
             Ketaatan adalah salah satu modal utama bagi para pembelajar. Sebagai pembelajar yang senantiasa haus akan ilmu kita perlu taat dalam menjalani proses pencarian ilmu itu. Dalam kenyataannya, kita bisa menggunakan konsep ketaatan ini saat kita diberikan perintah oleh guru kita. Seperti Nabi Ibrahim saat diberikan perintah oleh Allah, kita tidak usah banyak tanya dan banyak cakap. Kalau kita sudah percaya kepada Guru kita, segeralah melaksanakan perintah itu.  Begitupun terhadap perintah Allah lainnya, kita harus senantiasa menjalani perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jangan sampai sebagai pembelajar kita justru sering bermaksiat dan berbuat khilaf. Hal ini akan menjadi penghalang terhadap ilmu-ilmu untuk sampai kepada kita.
             Demikian jiwa pembelajar yang diajarkan oleh Bapak dari Para Nabi yakni Nabi Ibrahim AS. Kritis terhadap lingkungan kita dan memiliki keingintahuan yang besar sebagai langkah awal kita dalam mencari ilmu. Kemudian mencari ilmu dengan penuh kesabaran dan tak kenal lelah akan berbagai onak duri, selalu menjaga semangat berkelanjutan dalam jiwa kita. Terakhir kita harus ikhlas dan taat dalam menjalani proses yang ada serta tentunya jangan lupa kita niatkan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah dan bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Kalau sudah seperti itu insya Allah ilmu akan didekatkan kepada para pembelajar yang haus akan ilmu. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa diberikan kekuatan untuk tetap istiqamah dalam menapaki jalan pencarian ilmu. Dikuatkan untuk menahan lelahnya menuntut ilmu, agar terhindari dari perihnya kebodohan.

Sejarah Singkat Kebudayaan Islam

Sejarah Singkat Kebudayaan Islam

A. Pendahuluan
            Manusia merupakan satu-satunya makhluk Allah yang diberikan karunia dengan akal, maka dengan memiliki kekhususan tersebut manusiapun diberikan kemampuan dalam menganalisis suatu hal dalam kehidupannya. Maka dari itu pada kaitannya manusia tidak mungkin terlepas dari yang namanya sejarah, karena dengan sejarah tersebut manusia dapat belajar dan menganalisis kejadian-kejadian yang terjadi pada masa lalu. Sejarah merupakan cerminan dari kehidupan masa lalu kita dan dapat dijadikan sebagai bahan instropeksi diri. Begitu pula dengan sejarah peradaban Islam yang merupakan alat untuk mempelajari kejadian yang terjadi di masa lalu ataupun sebagai acuan untuk lebih dapat memajukan Islam daripada sebelumnya.
           Peradaban Islam merupakan kajian yang sangat luas. Seperti yang akan dijelaskan dalam makalah ini, bahwa peradaban Islam sangat erat kaitannya dengan kebudayaan tetapi tetap merupakan dua hal yang berbeda. Dalam kebudayaan mencakup juga peradaban, tetapi tidak sebaliknya.
Untuk mengetahui lebih dalam tentang pengertian dan ruang lingkup sejarah peradaban Islam, akan dijelaskan lebih terperinci dalam makalah ini.

1. Pengertian Sejarah Peradaban Islam
a. Pengertian Sejarah
             Secara etimologis berasal dari kata arab “syajarah” yang mempunyai arti “pohon kehidupan” dan yang kita kenal didalam bahasa ilmiyah yakni History[1].

b. Karakteristik sejarah
               Karakteristik sejarah dengan disiplinnya dapat dilihat berdasarkan 3 orientasi
Pertama : sejarah merupakan pengetahuan mengenai kejadian kejadian, peristiwa peristiwa dan keadaan manusia dalam masa lampau dalam kaitannya dengan keadaan masa kini.
Kedua : sejarah merupakan pengetahuan tentang hokum hokum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau, yang di peroleh melalui penyelidikan dan analisis atau peristiwa peristiwa masa lampau.
Ketiga : sejarah ssebagai falsafah yang di dasarkan kepada pengetahuan tentang perubahan perubahan masyarakat, dengan kata lain sejarah seperti ini merupakan ilmu tentang proses suatu masyarakat.

c. Kegunaan sejarah
             Sejarah mempunyai arti penting dalam kehidupan begitu juga sejarah mempunyai beberapa  kegunaan, diantara kegunaan sejarah antara lain :
  - Untuk keleatarian identitas kelompok dan memperkuat daya tahan kelompok itu bagi kelangsungan hidup.
  - Sejarah berguna sebagi pengambilan pelajaran dan tauladan dari contoh contoh di masa lampau, sehingga sejarah memberikan azas manfaat secara lebih khusus demi kelangsungan hidup.
  - Sejarah berfungsi sebagai sarana pemahaman mengenai hidup dan mati.
Dengan begitu pentingnya sejarah dalam kehidupan ini di dalam ALQur’an sendiri terdapat beberapa kisah para nabi dan tokoh masa lampau diantaranya:

2. Makna Peradaban Islam
              Dari akar kata madana lahir kata benda tamaddun yang secara literal berarti peradaban (civilization) yang berarti juga kota berlandaskan kebudayaan (city base culture) atau kebudayaan kota (culture of the city). Di kalangan penulis Arab, perkataan tamaddun digunakan – kalau tidak salah – untuk pertama kalinya oleh Jurji Zaydan dalam sebuah judul buku Tarikh al-Tamaddun al-Islami (Sejarah Peradaban Islam), terbit 1902-1906. Sejak itu perkataan Tamaddun digunakan secara luas dikalangan umat Islam. Di dunia Melayu tamaddun digunakan untuk pengertian peradaban. Di Iran orang dengan sedikit berbeda menggunakan istilah tamaddon dan madaniyat. Namun di Turkey orang dengan menggunakan akar madinah atau madana atau madaniyyah menggunakan istilah medeniyet dan medeniyeti. Orang-orang Arab sendiri pada masa sekarang ini menggunakan kata hadharah untuk peradaban, namun kata tersebut tidak banyak diterima ummat Islam non-Arab yang kebanyakan lebih menyukai istilah tamaddun. Di anak benua Indo-Pakistan tamaddun digunakan hanya untuk pengertian kultur, sedangkan peradaban menggunakan istilah tahdhib[2].
             Kata peradaban seringkali dikaitkan dengan kebudayaan bahkan, banyak penulis barat yang mengidentikan “kebudayaan” dan “peradaban” islam. Seringkali peradaban islam dihubungkan dengan peradaban Arab meskipun sebenarnya antara Arab dan Islam tetap bisa dibedakan. Adapun yang membedakan antara kebudayaan tersebut adalah dengan adanya peningkatan peradaban pada masa jahiliyah yang berasal dari kebodohan. Hal ini pada akhirnya berubah ketika islam datang yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW di Arab. Sehingga pada masanya kemudian islam berkembang menjadi suatu peradaban yang menyatu dengan bangsa Arab bahkan berkembang pesat kebagian belahan dunia yang lainnya, islam tidak hanya sekedar agama yang sempurna melainkan sumber peradaban islam itu sendiri.
                 Landasan peradaban islam dalah kebudayaan islam terutama wujud idealnya, sementara landasan kebudaan islam adalah agama. Islam tidak seperti masyarakat penganut agama yang lainnya, agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Jika kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka agama islam adalah wahyu dari peradaban. Peradaban merupakan kebudayaan yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimana kebudayaan tersebut tidak hanya berpengaruh di daerah asalnya tapi juga mempengaruhi daerah-daeerah lain yang menjadikan kebudayaan tersebut berkembang.

3. Sejarah peradaban Islam
              Sejarah peradaban islam diartikan sebagai perekembangan atau kemajuan kebudayaan islam dalam perspektif sejarahnya, dan peradaban islam mempunyai berbgai macam pengetian lain diantaranya
  - Sejarah peradaban islam merupakan kemajuan dan tingkat kecerdasan akal yang di hasilkan dalam satu periode kekuasaan islam mulai dari periode nabi Muhammad Saw sampai perkembangan kekuasaan islam sekarang. 
 - Sejarah peradaban islam merupakan hasil hasil yang dicapai oleh ummat islam dalam lapangan kesustraan,  ilmu pengetahuan dan kesenian.
  - Sejarah perdaban islam merupakan kemajuan politik atau kekuasaan islam yang berperan melindungi pandangan hidup islam terutama dalam hubungannya dengan ibadah ibadah, penggunaan bahasa, dan kebiasaan hidup bermasyarakat.

4. Islam sebagai Peradaban
              Konon, ketika Nabi menerima laporan bahwa ajakannya kepada Kaisar Romawi, Heraclitus untuk berpegang pada keyakinan yang sama (kalimatun sawa’) ditolak dengan halus, nabi hanya berkomentar pendek “sa uhajim al-ruum min uqri baiti” (Akan saya perangi Romawi dari dalam rumahku). Ucapan Nabi ini bukan genderang perang, ia hanya berdiplomasi. Tidak ada ancaman fisik dan juga tidak menyakitkan pihak lawan. Ucapan itu justru menunjukkan keagungan risalah yang dibawanya, bahwa dari suatu komunitas kecil di jazirah Arab yang tandus, Nabi yakin Islam akan berkembang menjadi peradaban yang kelak akan mengalahkan Romawi.

                   Pada tahun 700 an, tidak lebih dari setengah abad sesudah wafatnya Nabi Muhammad (632 M), ummat Islam telah tersebar ke kawasan Asia Barat dan Afrika Utara, dua kawasan yang dulunya jatuh ketangan Alexander the Great. Selanjutnya, Muslim memasuki kawasan yang telah lama dikuasai oleh Kristen dengan tanpa perlawanan yang berarti. Menurut William R Cook pada tahun 711 M – 713 M kerajaan Kristen di kawasan Laut Tengah jatuh ketangan Muslim dengan tanpa pertempuran, meskipun pada abad ke 7 kawasan itu cukup makmur. Bahkan selama kurang lebih 300 tahun hampir keseluruhan kawasan itu dapat menjadi Muslim. Baru pada abad ke sebelas kerajaan Kristen di kawasan itu mulai melawan Muslim. Demitri Gutas dengan jelas mengakui:
“…..pada tahun 732 M kekuasaan dan peradaban baru didirikan dan disusun sesuai dengan agama yang diwahyukan kepada Muhammad, Islam, yang berkembang seluas Asia Tengah dan anak benua India hingga Spanyol dan Pyrennes.”
                  Gutas bahkan menyatakan bahwa dengan munculnya peradaban Islam, Mesir untuk pertama kalinya, sejak penaklukan Alexander the Great, dapat dipersatukan secara politis, administratif dan ekonomis dengan Persia dan India dalam jangka waktu yang cukup lama. Perbedaan ekonomi dan kultural yang memisahkan dua dunia yang berperadaban, Timur dan Barat, sebelum Islam datang yang dibatasi oleh dua sungai besar dengan mudahnya lenyap begitu saja.
Sudah tentu proses kejatuhan Romawi tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Edward Gibbon dalam The Decline And Fall Of The Roman Empire menyatakan bahwa periode kedua dari merosot dan jatuhnya Kekaisaran Romawi disebabkan oleh lima faktor: pertama di era kekuasaan Justinian banyak wewenang memberi kepada Imperium Romawi di Timur; kedua adanya invasi Italia oleh Lombards; ketiga penaklukan beberapa provinsi Asia dan Afrika oleh orang Arab yang beragama Islam; keempat pemberontakan rakyat Romawi sendiri terhadap raja-raja Konstantinopel yang lemah; dan terakhir munculnya Charlemagne yang pada tahun 800 M mendirikan Kekaisaran Jerman di Barat.
Jadi, penyebab kejatuhan Romawi merupakan kombinasi dari berbagai faktor, seperti problem agama Kristen, dekadensi moral, krisis kepemimpinan, keuangan dan militer. Dan di antara faktor terpenting penyebab kajatuhan Romawi adalah datangnya Islam. Pernyataan Nabi yang diplomatis itu nampaknya terbukti. Nabi tidak pernah pergi menyerang Romawi Barat maupun Timur, tapi datangnya gelombang peradaban Islam telah benar-benar menjadi faktor penyebab kejatuhan Romawi. Ini juga merupakan bukti bahwa Islam sebagai din yang menghasilkan tamaddun yang dapat diterima oleh bangsa-bangsa selain bangsa Arab. Sebab Islam membawa sistem kehidupan yang teratur dan bermartabat, sehingga mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Jadi Islam diterima oleh bangsa-bangsa non Arab karena universalitas ajarannya alias kekuatan pancaran pandangan hidupnya.
Ketika Kaisar Persia Ebrewez, cucu Kaisar Khosru I, merobek-robek surat Nabi sambil berkata :”Pantaskah orang itu menulis surat kepadaku sedangkan ia adalah budakku”, Nabi pun berkomentar pendek “Semoga Allah merobek-robek kerajaannya”. Dan Sabda Nabi kembali terbukti bahwa sesudah itu putera Kaisar yang bernama Qabaz merebut kekuasaan dengan membunuh Kaisar Ebrewez, ayahnya sendiri. Qabaz pun kemudian hanya berkuasa empat bulan saja lamanya. Selanjutnya kekaisaran Persia itu berganti-ganti hingga sepuluh kali dalam masa empat tahun. Ia benar-benar porak poranda. Akhirnya, rakyat mengangkat kaisar Yazdajir dan pada masa inilah Persia tidak berdaya ketika tentara Islam datang. Sejak itu kekaisaran Persia benar-benar runtuh.
Sebagaimana sikapnya terhadap kekaisaran Romawi, Nabi tidak keluar rumah untuk menjatuhkan (merobek-robek) kekaisaran Persia. Nabi hanya menyerbarkan Islam yang memang merupakan peradaban yang memiliki konsep ketuhanan, kemanusiaan dan kehidupan yang jelas dan teratur. Di Indonesia, Islam masuk tanpa peperangan. Islam masuk dan diterima oleh masyarakat yang telah memiliki kepercayaan Hindu yang kuat. Namun karena kekuatan konsepnya Islam mudah merasuk kedalam pandangan hidup masyarakat nusantara waktu itu, maka dalam kehidupan secara menyeluruh. Ini bukti bahwa Islam tersebar bukan melulu karena pedang. Islam tersebar, menguasai dan menyelamatkan (mengislamkan) masyarakat di kawasan-kawasan yang didudukinya. Tidak ada eksploitasi sumber alam untuk dibawa ke daerah darimana Islam berasal. Tidak ada pertambahan kekayaan bagi jazirah Arab. Tidak ada kemiskinan akibat masuknya Muslim ke kawasan yang didudukinya. Daerah-daerah yang dikuasai atau diselamatkan ummat Islam justru menjadi kaya dan makmur. Itulah watak peradaban Islam yang sangat berbeda dari peradaban Barat yang eksploitatif.

5. Peran dan Fungsi Manusia Sebagai Pembuat Peradaban
                Dalam perspektif islam manusia sebagai pelaku sekaligus pembuat peradaban memiliki kedudukan dan peran inti, kedudukan dan posisi manusia di kisahkan dalam Al Qur’an diantaranya:
- Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna dan paling utama Allah. Sebagai konsekwensi logis manusia memilki kebebasan yang bertanggung jawab, dalam arti yang seluas luasnya dan pada dimensi yang beragam yang pasa gilirannya merupakan amanat yang harus di pikul.
- Guna mengemban tugasnya sebagai mahluk yang di mulyakan Allah, tidak sepeti ciptaan Allah yang lain. Semuanya mempunyai tekanan yang sama yaitu agar manusia menggunakan akalnya hanya untuk hal hal yang positif sesuai dengan fitrah dan panggilan hati nuraninya, dan amatlah tercella bagi orang yang teperdaya oleh hawa nafsu terlepas dari kemanusiaannya dan fitrahnya.dan dalam hal ini


B. Ruang Lingkup Sejarah Peradaban Islam
                Tanda wujudnya peradaban, menurut Ibn Khaldun adalah berkembangnya ilmu pengetahuan seperti fisika, kimia, geometri, aritmetik, astronomi, optic, kedokteran dsb. Bahkan maju mundurnya suatu peradaban tergantung atau berkaitan dengan maju mundurnya ilmu pengetahuan. Jadi substansi peradaban yang terpenting dalam teori Ibn Khaldun adalah ilmu pengetahuan. Namun ilmu pengetahuan tidak mungkin hidup tanpa adanya komunitas yang aktif mengembangkannya. Karena itu suatu peradaban atau suatu umran harus dimulai dari suatu “komunitas kecil” dan ketika komunitas itu membesar maka akan lahir umran besar. Komunitas itu biasanya muncul di perkotaan atau bahkan membentuk suatu kota. Dari kota itulah akan terbentuk masyarakat yang memiliki berbagai kegiatan kehidupan yang daripadanya timbul suatu sistem kemasyarakat dan akhirnya lahirlah suatu Negara. Kota Madinah, kota Cordova, kota Baghdad, kota Samara, kota Cairo dan lain-lain adalah sedikit contoh dari kota yang berasal dari komunitas yang kemudian melahirkan Negara. Tanda-tanda lahir dan hidupnya suatu umran bagi Ibn Khaldun di antaranya adalah berkembanganya teknologi, (tekstil, pangan, dan papan / arsitektur), kegiatan eknomi, tumbuhnya praktek kedokteran, kesenian (kaligrafi, musik, sastra dsb). Di balik tanda-tanda lahirnya suatu peradaban itu terdapat komunitas yang aktif dan kreatif menghasilkan ilmu pengetahuan.
Namun, di balik faktor aktivitas dan kreativitas masyarakat masih terdapat faktor lain yaitu agama, spiritualitas atau kepercayaan. Para sarjana Muslim kontemporer umumnya menerima pendapat bahwa agama adalah asas peradaban, menolak agama adalah kebiadaban. Sayyid Qutb menyatakan bahwa keimanan adalah sumber peradaban. Meskipun dalam paradaban Islam struktur organisasi dan bentuknya secara material berbeda-beda, namun prinsip-prinsip dan nilai-nilai asasinya adalah satu dan permanent. Prinsip-prinsip itu adalah ketaqwaan kepada Tuhan (taqwa), keyakinan kepada keesaan Tuhan (tauhid), supremasi kemanusiaan di atas segala sesuatu yang bersifat material, pengembangan nilai-nilai kemanusiaan dan penjagaan dari keinginan hewani, penghormatan terhadap keluarga, menyadari fungsinya sebagai khalifah Allah di Bumi berdasarkan petunjuk dan perintahNya (syariat).
Karena islam lahir di Arab, maka isi dari ruang lingkup dari sejarah peradaban islam membahas tentang riwayan nabi Muhammad SAW sebagai pembawa wahyu tuhan sejak beliau belum dilahirkan sampai beliau wafat, perjuang-perjuangan nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama islam, kemajuan islam yang diteruskan oleh para sahabatnya masa disintregrasi, masa kemunduran, penyebaran islam dibelahan dunia barat hubungan perkembangan islam di negara kita ini serta pusat-pusat peradaban islam.